Senin, 25 November 2013

renstra MTs Ma'arif sidaraja tahun 2006



PENDAHULUAN

Madrasah telah mengalami perkembangan  yang cukup pesat dari awal abad ke 20 sampai sa'at ini, baik secara kwantitatif maupun kwalitatif.
Madrasah meupakan lembaga pendidikan yang telah tumbuh dan berkembang ditengah-tengah masyarakat . Eksistensi Madrasah telah mendapat pengakuan dan kehadirannya  menjadi bagian  yang tidak terpisahkan dari system pendidikan nasional .Madrasah telah ikut terlibat dalam upaya mencerdaskan bangsa , bukan saja dari segi pembentukan moralitas , namun  telah ikut pula  dalam pembentukan intelektual anak bangsa . Madrasah adalah jenis pendidikan umum yang bercrikhas agama Islam  dan dikelola oleh Departemen Agama . Lembaga pendidikan  tersebut menyelenggarakan pendidikan melalui jalur formal  termasuk juga Madrasah Tsanawiyah .
Begitu besar peranan Madrasah  termasuk juga Madrasah Tsanawiyah dalam mencerdaskan kehidupan Bangsa , mensuskseskan  wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun. Dengan usaha keras dari pemerintah, masyaeakat dan organisasi-organisasi Islam dan para tokoh Islam dalam meningkatkan mutu pendidikan , maka status madrasah termasuk Madrasah Tsanawiyah telah mendapat kedudukan yang sama dengan sekolah-sekolah umum lainnya
Untuk mewujudkan  madrasah yang bermutu  sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat , maka penerapan manajeman dalam pengelolaan Madrasah  merupakan suatu keharusan. Salah satu fungsi yang mendasar dalam manajeman adalah melakukan perencanaan pendidikan ,  termasuk dalam pembuatan Rencana Strategis ( Renstra ) dan rencana tahunan dengan perencanaan tersebut kinerja Madrasah  dapat dinilai dan dievaluasi  kemudian ditinjak lanjuti sesuai dengan harapan.













BAB I
EVALUASI PELAKSANAAN RENSTRA 2000 – 2005
DAN ANALISIS LINGKUNGAN STRATEGIK

            Perubahan Kurikulum dari KBK menjadi KTSP menimbulkan pola pembelajaran yang berbeda sehingga menimbulkan tuntutan baru baik dalam SDM maupun yang lainnya. MTs Sidaraja dituntut untuk  mampu bersaing dengan sekolah-sekolah lainnya terutama dengan SMP Negeri yang letaknya tidak jauh  dari lingkungan MTs  itu sendiri.
            Pada dasarnya Rentra tahun 2006 ini merupakan  lanjutan dari rentrsa sebelumnya yang disusun berdasdarkan peraturan yang berlaku pada sa'at ini . Oleh karena ini rentra ini penyusunannya bertitik tolak dari data dan informasi tentang tingkat capaian pelaksanaan renstra tahun sebelumnya, permasalah yang belum terpecahkan secara optimal dan perlu ditindak lanjuti, dalam kaitan inilah evaluasi terhadap Renstra 2000-2005 dilakukan.

A.        TINGKAT CAPAIAN TUJUAN

            Hasil yang dicapai melalui pelaksanaan program yang dipayungi Rentra 2000-2005 merupakan modal bagi pengembangan MTs Sidaraja pada lima tahun mendatang.
            Berdasarkan data yang terhimpun dalam dokumen MTs terungkap bahwa belum semua program dapat tercapai dengan baik, sehingga beberapa indicator yang telah dirumuskan belum semuanya dapat tercapai hanya  kuranglebig 51 % saja yang bisa terjangkau. Dalam Renstra 2006 ini ada beberapa indicator yang perlu segera diwujudkan untuk mencapai standard an dapat bersaing dengan sekolah-sekolah yang lain terutama dengan SMP Negeri yang  lokasinya tidak jauh dari MTs Sidaraja. Hal-hala yang perlu dicapai itu diantaranya adalah:
1.                  Pengembangan SDM yang mempunyai daya dukung terhadap peningkatan kinerja MTs
2.                  Peningkatan mutu pendidikan sesuai dengan ketentuan peraturan pemerintah untuk memperkuat daya saing lulusan sehingga bisa diterima dibeberapa sekolah negeri yang faporit terutama SMA dan SMK negeri.
3.                  Peningkatan wawasan propesionalisme  dan kompetensi guru sebagai dasar untuk pengembangan budaya lingkungan  social sekitar dimana siswa banyak yang masuk ke MTs tersebut.
4.                  Peningkatan fasilitas pendidikan  untuk mendukung pelaksanakan pembelajaran  sesuai dengan standar Nasional.
5.                  Peningkatan ketertiban,keamanan, kebersihan dan kenyamanan untuk mewujudkan kehidupan Madrasah yang Islami dan  edukatif.
6.                  Peningkatan kerjasama dengan sekolah lain maupun lembaga pemerintah demi terwujudnya kekuatan citra dan kinerja Madrasah yang mempunyai komitmen terhadap akhlak mulia dan moralitas serta ilmiah dan teknologis.
7.                  Penggalian dana dari berbagai sumber baik dari orang tua siswa donator juga cara-cara lain yang memungkinkan dan tidak menyalahi aturan.
8.                  Peningkatan partisipasi masyarakat  dalam berbagai program  pengembangan pendidikan baik pendidikan agama maupun pendidikan keterampilan sesuai dengan harapan masyarakat .
9.                  Bantuan penanganan kesulitan siswa yang kurang mampu baik ketika belajar di MTs maupun untuk melanjutkan  ke sekolah yang jenjangnya lebih tinggi dari MTs.
10.              Peningkatan kemampuan lobi  baik pada instansi pemerintah maupun swasta untuk membantu perkembangan madrasah dimasa yang akan datang.
B.        KONDISI YANG DIHADAPI DAN DAMPAK LINGKUNGAN STRATEGIK
            MTs dihadapkan pada persoalan  yang sangat kompleks mengingat kondisi dan karakteristik siswa yang masuk ke MTs berasal dari keluarga yang tidak mampu dan rata-rata tingkat kecerdasannya di bawah siswa yang masuk ke SMP Negeri. Dengan demikian pendapan Madrasah dari siswa sangat terbatas dan keberhasilan belajar siswa pun  kurang memenuhi harapan, sehingga  guru harus ektra keras bekerja untuk memecu siswa belajar dengan sungguh-sungguh. Problematikanya bakasjasa kepada guru dari sekolah sangat terbatas karena kemampuan ekonomi masyarakat yang memasukan anaknya ke sekolah tersebut rata-rata berekonomi lemah.
            Jumlah peminat yang masuk ke MTs Sidaraja setiap tahun semakin bertambah sehingga yang tadinya hanya satu  rombongan belajar pada setiap kelas sekarang  sudah dua rombongan belajar. Kebijakan untuk  dapat menampung siswa sebanyak-banyaknya hal ini berdampak pada daya dukung fasilitas belajar yang sangat terbatas. Upaya untuk menambah fasilitas belajar terus dilakukan dengan cara melakukan  pendekatan kepada instansi terkait baik pada departemen Agama selaku lembaga yang langsung menangani Madrasah ataupun kepada dinas pendidikan dan pemda setempat terutama pemberdayaan komite sekolah untuk menggali dana yang bersumber dari masyarakat.           
Jumlah guru yang mengajar di MTs Sidaraja berjumlah 17 orang terdiri dari   3 orang Bantuan dari DEPAG  dan sisanya  sukwan yang 17 orang tersebutu terdiri dari S.1 berjumlah  10 orang  yang berijazah D.2 = 1 Orang, D.3 = 1 Orang, masih kuliah  5 Orang.  S.1 sesuai dengan bidang studi yang diberikan  5 Orang, S.1 Lainnya dari PAI yang tiga  diantaranya  mengajar PAI dan  2 Orang mengajar diluar PAI, sedangkan  D.2 dan D.3 juga dari PAI keduanya tidak mengajar PAI, sedangkan yang masih kuliah mengjar sesuai dengan jurusannya di Perguruan Tinggi dimana mereka belajar.
Dalam hal ini penambahan fasilitas belajar menjadi prasarat bagi pengembangan MTs Sidaraja, karena untuk menyesuaikan diri kemajuan zaman dan mengejar mutu yang diharapkan tanpa didukung dengan fasilitas suatu hal tidak mungkin bisa dicapai dengan sempurna. Fasilitas yang tersedia hanya mempunyai 5 ruang belajar 1 ruang guru dan   yang disekat dengan ruang-ruang lainnya termasuk ruang kepala madrasah, sehingga dirasakan sempit bila terjadi kebutuhan dan penambahan barang yang diperlukan oleh madrasah.
Persoalan  yang paling kompleks  yaitu berada pada sektor pembiyayaan Madrasah sehingga penghasilan guru dan karyawan pada" MTs Sidaraja"  bila dirata-ratakan hanya berkisar  Rp. 250.000,- pada setiap bulannya bagi guru dan karyawan sukwan, sedangkan bagi yang  diperbantukan dari Depag ( DPk ) dibayar oleh departemen. Biaya yang digunakan hanya bersumber dari pemerintah melalui dana BOS yang dihitung berdasarkan jumlah siswa yang tercatat di madrasah tersebut. Jadi bila dihitung stiap bulannya MTs harus menyediakan dana sebesar Rp. 3.500.000,- pada setiap bulannya untuk honor pegawai dan guru, belum lain-lainnya. Bila ingin layak sesuai dengan UMR ( Upah Minimum Regional ),  MTs harus meningkatkan pengasilan guru dan karyawan lebih dari yang sudah berlaku, hal itu sulit dilakukan bila  biaya tersebut hanya mengandalkan satu sumber saja yaitu dari dana BOS. Jadi bila melebihi dari anggaran yang telah berjalan bagi MTs Sidaraja sulit untuk menjangkaunya.
Untuk menjawab tangtangan tersebut sebenarnya ada peluang bagi MTs  dengan cara penambahan fasilitas belajar yang memadai baik  untuk kegiatan kurikuler maupun ekstra kurikuler supaya bisa menampung siswa sebanyak-banyaknya  sehingga bisa mengahasilkan dana yang memadai.
Madrasah Tsanawiyah Sidaraja  berada tepat dipinggir jalan raya, namun berada pada lingkungan masyarakat yang lemah baik dari segi ekonomi maupun kualitas pendidikan, sehingga minat untuk menyekolahkannyapun berkurang karena rata-rata  masyarakat berpenghasilan  kurang dari Rp. 700.000,- pada setiap bulannya berarti berada pada katagori miskin.  Karena rata-rata masyarakat bermata pencaharian buruh mebeler dan buruh tani .Hal ini sangat menyulitkan bagi MTs bila memungut dana dari masyarakat dengan bentuk uang kecuali tenaga.

C.        SEJARAH BERDIRINYA MTs SIDARAJA
            MTs sidaraja  didirikan pada tahun 1968 yang diprakarsai oleh Bapak H.Saefudin Iskandar, Bapak Eded, Bapak Medi dan kesemuanya telah menginggal dunia. MTs tersebut beada pada tanah wakaf dari Bapak H.Abdul fatah seluas 650 M2.
Kemudian oleh masyarakat dibangun dengan ukuran sederhana karena semula diperuntukan bagi madrasah"Diniyah awaliyah" pada sore hari dan pada pagi harinya digunakan  oleh MTs.
            Pada mulanya MTs tersebut bernama SMPI ( Sekolah Menengah Pertama Islam ) sampai muncul peraturan bahwa harus adanya perubahan nama dari sekolah ke madrasah bila ingin tetap berada pada naungan Departemen  Agama RI.Keberadaan Mts di lokasi seperti itu  pada mulanya kurang mendapat perhatian karena dianggap MTs adalah sebuah lembaga pendidikan sekelas madrasah Diniyah yang tidak mempunyai dampak positif terhadap kelangsungan lulusannya  bila mau melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, karena itu nama MTs selalu di gandfengan dengan Nama SMPI untuk menambah kepercayaan masyarakat bahwa sekolah tersebut satu level dengan  SMP  Negeri lainnya yang berada di bawah naungan Diknas.Kepercayaan  masyarakat muncul setelah  banyaknya  lulusan dari "MTs Sidaraja " yang masuk ke PGA dan langsung diterima menjadi guru Agama yang banyak ditugaskan  di kecamatan dimana MTs tersebut berada. Mulai sa'at itulah nama MTs dipercaya oleh masyarakat sebagai sekolah formal yang lulusannya bisa diterima di berbagai sekolah negeri lainnya.
            Sejak berdirinya MTs Sidaraja baru dipimpin oleh tiga orang yaitu sejak berdiri oleh Bapak  H.M. Sholih Hidayat ( 1968 – 1975 )  Ibu Maya Kesmaya ( 1976 – 2004 ) Lili Sadeli ( 2005 – sekarang ).
            Sejak berdirinya, MTs Sidaraja  diminati oleh siswa hanya berkisar belasan siswa setiap tahunnya, hal itu berjalan sampai dengan tahun 2003, baru pada tahun 2004 siswa yang masuk  mencapai 30 orang sejak tahun 2005 sampai sekarang siswa yang masuk mencapai 50 orang bahkan tahun pelajaran 2006/2007 mencapai 65 orang siswa.
            Pada mulanya MTs tersebut berdiri tidak mempunyai yayasan yang menaunginya, karena pada  sa'at itu  belum adanya suatu aturan yang mengharuskan bahwa sebuah sekolah swasta harus berada dibawah naungan sebuah  Yayasan atau lembaga, baru pada tahun 1983  MTs tersebut menggabungkan diri dengan lembaga Pendidikan Ma'arif kabupaten Sumedang karena salah seorang diantara pendiri  Mts tersebut kenal baik dengan pengurus lembaga Ma;arif pada sa'at itu, dan sampai sekarang " MTs Sidaraja" tetap di bawah naungan Lembaga pendidikan ma'arif Cabang sumedang.
            Bangunan MTs   sejak berdiri sampai sekarang menumpang di bangunan milik Madrasah diniyah  yang secara operasional tidak  berfungsi lagi karena Madrasah diniyah tidak diaktifkan lagi oleh pengurusnya. Baru pada tahun 2006 mandapat tambahan lokal yang merupakan bantuan dari diknas berupa RKB sebanyak 2 lokal dan berlantai dua.
            Fasilitas-fasilitas yang lainnya belum tersedia sehubungan dengan minimnya dana yang masuk ke MTs tersebut. Sampai sekarang MTs tersebut baru mempunyai 5 ruang belajar dan satu runag guru dan runag yang lainyapun disatukan dengan ruang guru.
           



BAB. II
ANALISIS KONDISI DAN ASUMSI-ASUMSI
A.        ANALISIS KONDISI
            1.   Identifikasi Kekuatan
                  a.   Ruang Belajar milik Sendiri
b.  Tingginya komitmen, tanggung jawab dan ikhlas beramal pimpinan, guru dan stap
c.   Terakreditasi
d.   Lokasi  strategis ( pinggir jalan raya )
2.   Identifikasi Kelemahan
a.   Terbatasnya kesejahteraan guru dan stap
b.   Rendahnya kwalifikasi dan profesionalisme guru
c.   Kurang memadainya sarana  dan prasarana belajar
3.   Identitas Peluang
a. Tingginya Komitmen Yayasan  Pembina dalam pengembangan Madrasah
b.   Adanya Bantuas Operasional Sekolah ( BOS ) terhadap madrasah
c.   Bertambahnya minat masyarakat untuk menyekolahkan ke Madrasah Tsanawiyah
d.   Adanya Keputusan pemerintah tentang wajar Dikdas sembilan tahun
4.   Identitas Tantangan
      a.   Berdekatan dengan sekolah lain ( SMP Negeri )
      b.   Lermahnya kemampuan ekonomi masyarakat
c.  calon siswa yang masuk ke MTs mempunyai rata-rata nilai yang  rendah
d.   Jarak tempuh calon siswa ke  MTs cukup  jauh.
B.        ASUMSI-ASUMSI
            Pengembangan rencana strategis MTs Sidaraja dilandasi dengan masumsi-asumsi sebagai berikut:
1.                  Pertumbuhan penduduk usia sekolah di desa terdekat dengan Madrasah terus meningkat sementara daya tampung madrasah kurang memadai.
2.                  Kenaikan BBM membuat masyarakat enggan menyekolahkan ke Sekolah yang jaraknya lebih jauh dan memerlukan ongkos yang mahal, sementara penghasilan mereka tetap, sehingga sekolah terdekat menjadi pilihan utama
3.                  Pemberlakuan peraturan pemerintah tentang wajar dikdas sembilan tahun d sudah mulai disosialisasikan sampai pada tingkat RT, sehingga menimbulkan rasa keharusan untuk melanjutkan dari SD ke SLTP.
4.                  Tuntutan dunia kerja terutama dari pabrik-pabrik sudah tidak menerima lagi lulusan dari  SD, juga  prasarata untuk menjadi pegawai desapun harus berijazah SLTP
5.                  Modernisasi Madrasah dan pengembangan fasilitas belajar menjadi pendorong bagi pengembangan MTs
6.                  Peningkatan layanan prima memerlukan sumberdaya manusia yang handal dalam pengelolaan sebuah lembaga pendidikan.


































BAB. III
RENCANA STRATEGIS MADRASAH TSANAWIYAH SIDARAJA
TAHUN 2006 – 2011
A.VISI, MISI , TUJUAN 
    1. Visi
Madrasah Tsanawiyah mewujudkan komitmen akhlak mulia dan moralitas, serta ilmu pengetahuan dan teknologi.

    1. Misi
a.    Mengembangkan akhlak mulia  dalam pencitraan lembaga Islami
b. Menjungjung tinggi moralitas dalam membangun akuntabilitas Madrasah
c.   Menjaga keharmonisan dalam komunikasi kelembagaan dan masyarakat
d.   Meningkatkan pembelajaran sebagai wujud pengkajian ilmu pengetahuan
3.    Tujuan
      a.   Terbentuknya akhlak peserta didik yang Islami
b.   Mempersiapkan peserta didik  dalam menghadapi perkembangan teknologi dalam era gelobalisasi
c.   Terwujudnya peserta didik yang dapat menerapkan nilai budaya dalam kehidupan yang Islami
d.   Mempersiapkan peserta didik agar mampu melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.


  1. PRIORITAS PENGEMBANGAN LIMA TAHUN KE DEPAN

Untuk mewujutkan tujuan yang telah dirumuskan di atas ditetapkan prioritas pengembangan pengembangan MTs Sidaraja  dalam jangka waktu lima tahun kedepan sebagai berikut:
    1. Penambahan  sarana dan fasilitas belajar yang memadai
    2. Peningkatan mutu pengajar sesuai dengan propesionalisme guru yang kwalifaid
    3. Rekrutmen siswa sebanyak-banyaknya

Starategi
a.   Optimalisasi peran dan fungsi guru dan stap
b.   Intensitas rewaed beradasarkan pengabdian secara proporsional
c.   Intensifikasi hubungan dan sinergisitas dengan masyarakat
d.   Meningkatkan aksebilitas lembaga dalam penyediaan fasilitas
e.   Optimalisasi mutu layanan prima dengan kepemimpinan yang transparan dan penuh kebersamaan serta kekeluargaan

KEBIJAKAN DAN PROGRAM

1.            Sarana dan Fasilitas belajar
Kebijakan dalam bidang sarana dan fasilitas belajar ditujukan untuk  menampung siswa sebanyak mungkin  dan terwujudnya layanan prima dalam proses pembelajaran sehingga mutu lulusan dapat terjamin sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan tangtangan zaman.
Kebijakan di atas diwujudkan dalam beberapa program sebagai berikut:
a.       Menambah ruang belajar
b.      Menyediakan ruang perpustakaan
c.       Membangun Musholla
d.      Membangun ruang peraktik computer dan menambah jumlah computer sesuai dengan kebutuhan siswa
Ketercapaian program tersebut dapat dilihat  pada indicator dibawah ini yaitu:
a.       Terbentuknya panitia pembangunan demi pengembangan sarana dan fasilitas pembelajaran.
b.      Pemberdayaan komite sekolah secara oftimal untuk menggali dana baik dari orang tua siswa maupun donator-donatur yang terdiri dari alumni MTs tersebut maupun yang lainnya.


2.     Peningkatan mutu guru melalui kelayakan dan profesionalisme guru
               Peningkatan mutu guru ditujukan untuk mencapai keberhasilan belajar siswa sehingga  mampu dicapai nilai yang baik, yang pada akhirnya mampu bersaing dengan siswa  tamatan dari sekolah lain dan  melanjutkan ke sekolah – sekolah  paporit.
               Kebijakan di atas diwujudkan melalui beberapa program sebagai berikut:

1.   Guru yang belum mempunyai kwalifikasi S.1,  dalam jangka lima tahun kedepan harus sudah berpendidikan S.1
2.      Guru mengikuti Pendidikan (penataran ) sesuai dengan mata pelajaran yang  diajarkannya.
Ketercapaian program tersebut dapat dilihat dari indicator-indikator sebagai berikut:
a.      Melakukan pendekatan dengan departemen Agama untuk mendapatkan jatah beasiswa melanjutkan pendidikan   ke jenjang S.1.
b.      Memotivasi guru untuk melanjutkan pendidikan karena adanya sertifikasi guru sesuai dengan undang-undang guru dan dosen
c.      Mengutus beberapa guru untuk mengikuti pendidikan propesi yang diselenggarakan oleh departemen Agama yang bersipat penataran atau pendidikan-pendidikan lainnya.
3.  Rekrutmen siswa
Rekrutmen siswa sebanyak-banyaknya ditujukan untuk meningkatan kesejahteraan guru, karena dengan siswa yang banyak berarti medapatkan biaya yang banyak pula karena perhitungan BOS ( Bantuan Operasional Sekolah ) mengacu kepada jumlah siswa yang ada di sekolah tersebut. Bila guru kesejahteraannya meningkat biasanya akan bekerja dengan baik dan bertanggung jawab selanjutnya   kwalitas hasil belajar siswa meningkat Dan sekolah pun tidak akan merasa keberatan untuk bertindak bila sesuai antara kinerja dengan kelayakan upah yang diberikan.
      Kebijakan tersebut diwujudkan dengan beberapa program diantaranya:
1.   Membentuk Panitia penerimaan siswa baru
2.   Mengaklokasikan dana khusus untuk rekrutmen siswa baru
Ketercapaian program tersebut dapat dilihat dalam indicator-indikator sebagai berikut:
1.   Membuat pamplet penerimaan siswa baru yang dikirim ke SD terdekat
2.   Memasang spanduk penerimaan siswa baru yang dipampang dipinggir jalan raya atau beberapa balai desa terdekat
3.   Mempersentasekan keberadaan sekolah keberapa tempat  dari julai tingkat desa sampai dengan tingkat dusun di beberapa desa terdekat.
4.   Mengumpulkan para alumni untuk membantu sekolah  dalam rekrutmen siswa.
















PENUTUP
Rencana Strategis Madrasah Tsnawiyah Sidaraja tahun 2006 – 2011 merupakan dasar pengembangan  dan Rencana Kegiatan dan Anggaran Tahunan  seluruh uni Kerja dilingkungan Madrasah Tsanawiyah  ini selanjutnya dijabarkan dalam Rencana Operasional  ( Renop ) Madrasah sebagai rujukan dalam menentukan kegiatan-kegiatan  dilingkungan Madrasah Tsanawiyah Sidaraja  dan dilengkapi dengan indicator-indikator kinerja sebagai dasar untuk mengevaluasi keberhasilan atau tidak keberhsilan program  dan kegiatan.
Dalam hal terjadi perubahan lingkungan strategis yang tidak terduga sebelumnya, sehingga kebijakan dan program yang telah dirumuskan dalam rencana strategis menghadapi kendala untuk dilaksanakan , maka  Pimpinan Madrasah dapat melakukan perubahan dengan mendapat persetujuan dari komite sekolah.
Berhasilnya implementasi rentra ini sangat bergantung kepada pemahaman , kesadaran, keterlibatan  dan upaya yang sungguh-sungguh dari segenap unsure dalam lingkungan Madrasah Tsanawiyah Sidaraja, serta dukungan masyarakat dan pemerintah. Keberhasilan pelaksanaan Renstra ini menjadi harapan nyata bagi pembangunan pendidikan dan pembangunan masadepan generasi muda di lingkungan desa Padanaan khususnya. Bagi segenap warga Madrasah hanya tersedia satu jalan yang lurus untuk mencapai cita-cita luhur yang digariskan dalam  Renstra ini, yaitu bekerja keras dan sungguh-sungguh serta berdo'a  kepada Allah SWT.
     














Tidak ada komentar:

Posting Komentar