1. Konsep Manusia Menurut
Mazdhab Psikoanalisis dan Behaviorisme,
. Pengertian Aliran
Psikoanalisa
Psikoanalisa ditemukan di Wina, Austria, oleh Sigmund Freud.
Psikoanalisis merupakan salah satu aliran di dalam disiplin ilmu psikologi yang
memilik beberapa definisi dan sebutan, Adakalanya psikoanalisis didefinisikan
sebagai metode penelitian, sebagai teknik penyembuhan dan juga sebagai
pengetahuan psikologi.
Psikoanalisa menurut definisi modern yaitu (1) Psikoanalisis
adalah pengetahuan psikologi yang menekankan pada dinamika, faktor-faktor
psikis yang menentukan perilaku manusia, serta pentingnya pengalaman masa
kanak-kanak dalam membentuk kepribadian masa dewasa, (2) Psikoanalisis adalah
teknik yang khusus menyelidiki aktivitas ketidaksadaran (bawah sadar), (3)
Psikoanalisis adalah metode interpretasi dan penyembuhan gangguan mental.
Psikoanalisis dalam pengertian lain (Hjelle & Ziegler, 1992):
Teori mengenai kepribadian & psikopatologi
Metode terapi untuk gangguan kepribadian teknik untuk
menyelidiki pikiran & perasaan individu yang tidak disadari
Psikoanalisa memiliki
sebutan-sebutan lain yaitu (1) Psikologi dalam, karena menurut Freud penyebab
neurosis adalah gangguan jiwa yang tidak dapat disadari, pengaruhnya lebih
besar dari apa yang terdapat dalam kesadaran dan untuk menyelidikinya,
diperlukan upaya lebih dalam, (2) Psikodinamika, karena Psikoanalisis memandang
individu sebagai sistem dinamik yang tunduk pada hukum-hukum dinamika, dapat
berubah dan dapat saling bertukar energi.
B. Konsep Manusia Dalam Aliran
Psikoanalisa
Psikologi sebagai ilmu yang
mempelajari perilaku manusia telah melahirkan banyak teori-teori tentang
manusia, tetapi empat pendekatan yang paling dominan dan berpengaruh adalah : Psikoanalisis,
Behaviorisme, Psikologi Kognitif, dan Psikologi Humanistis. Psikoanalisis melukiskan
manusia sebagai makhlik yang digerakkan oleh keinginan-keinginan terpendam
(Homo Volens).
Di sisi lain, menurut
Sigmund Freud, perilaku manusia itu ditentukan oleh kekuatan irrasional yang
tidak disadari dari dorongan biologis dan dorongan naluri psikoseksual tertentu
pada masa enam tahun pertama dalam kehidupannya. Pandangan ini menunjukkan
bahwa aliran teori Freud tentang sifat manusia pada dasarnya adalah
deterministik. Namun demikian menurut Gerald Corey yang mengutip perkataan
Kovel, bahwa dengan tertumpu pada dialektika antara sadar dan tidak sadar,
determinisme yang telah dinyatakan pada aliran Freud luluh. Lebih jauh Kovel
menyatakan bahwa jalan pikiran itu adalah ditentukan, tetapi tidak linier.
Ajaran psikoanalisis menyatakan bahwa perilaku seseorang itu lebih rumit dari
pada apa yang dibayangkan pada orang tersebut.
Di sini, Freud memberikan
indikasi bahwa tantangan terbesar yang dihadapi manusia adalah bagaimana
mengendalikan dorongan agresif itu. Bagi Sigmund Freud, rasa resah dan cemas
seseorang itu ada hubungannya dengan kenyataan bahwa mereka tahu umat manusia
itu akan punah. Dan struktur kepribadian Dalam teori psikoanalitik, struktur kepribadian
manusia itu terdiri dari id, ego dan superego.
Id adalah komponen
kepribadian yang berisi impuls agresif dan libinal, dimana sistem kerjanya
dengan prinsip kesenangan “pleasure principle”.
Ego adalah bagian
kepribadian yang bertugas sebagai pelaksana, dimana sistem kerjanya pada dunia
luar untuk menilai realita dan berhubungan dengan dunia dalam untuk mengatur
dorongan-dorongan id agar tidak melanggar
nilai-nilai superego.
Superego adalah
bagian moral dari kepribadian manusia, karena ia merupakan filter dari sensor
baik- buruk, salah- benar, boleh- tidak sesuatu yang dilakukan oleh
dorongan ego.
2. Aliran Behavioristik
A.
Pengertian Aliran Behavioristik
Behavioristik di pengaruhi oleh
stimulus-respon. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan
stimulus-respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Penguatan tersebut
terbagi atas penguatan positif dan penguatan negatif. Penguatan positif sebagai
stimulus, dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu. Sedangkan
penguatan negatif dapat mengakibatkan perilaku berkurang atau menghilang.
Terapi perilaku (behavior
therapy) dan pengubahan perilaku (behavior modification) atau pendekatan
behavioristik dalam psikoterapi, adalah salah satu dari beberapa “revolusi”
dalam dunia pengetahuan psikologi, khususnya psikoterapi. Pendekatan
behavioristik yang dewasa ini banyak depergunakan dalam rangka melakukan
kegiatan psikoterapi dalam arti luas atau konseling dalam arti sempitnya,
bersumber pada aliran behaviorisme. Aliran ini pada mulanya tumbuh subur di
Amerika dengan tokohnya yang terkenal ekstrim, yakni John Broadus Watson, suatu
aliran yang menitik beratkan peranan lingkungan, peranan dunia luar sebagai
factor penting di mana seseorang dipengaruhi, seseorang belajar.
Pada abad ke-17, dunia
pengetahuan Filsafat ditandai oleh dua kubu besar yakni kubu “empiricism”
(physical science) dan kubu “naturalism” (biological science). Pada akhir abad
yang lalu, mempengaruhi lahirnya aliran behaviorisme dengan
pendekatan-pendekatannya yang kemudian menjadi terkenal dengan terapi perilaku
(behavior therapy) dan perubahan perilaku (behavior modification).
B.
Konsep Manusia Dalam Aliran Behavioristik
Para ahli psikologi behavioristik
memandang manusia tidak pada dasarnya baik atau jahat. Para ahli yang melakukan
pendekatan behavioristik,memandang manusia sebagai pemberi respons (responder),
sebagai hasil dari proses kondisioning yang telah terjadi.
Dustin & George
(1977) yang dikutip oleh George & Cristiani (1981), mengemikakan pandangan
behavioristik terhadap konsep manusia, yakni :
1. Manusia di pandang sebagai individu yang
pada hakikatnya bukan individu yang baik atau yang jahat,tetapi sebagai
individu yang selalu berada dalam keadaan sedang mengalami,yang memiliki
kemampuan untuk menjadi sesuatu pada semua jenis perilaku.
2. Manusia
mampu mengkonseptualisasikan dan mengontrol perilakunya sendiri.
3. Manusia
mampu memperoleh perilaku yang baru.
4. Manusia
bisa mempengaruhi perilaku orang lain sama halnya dengan perilakunya yang bisa
dipengaruhi orang lain.
Ivey, et al (1987)
mengemukakan bahwa pernah para pendukung pendekatan behavioristik merumuskan
manusia sebagai manusia yang mekanistik dan deterministik, dimana manusia
dianggap bisa dibentuk sepenuhnya oleh lingkungan dan sedikit memiliki
kesempatan untuk memilih. Namun pendekatan behavioristik yang baru,
menitikberatkan meningkatnya kebebasan dan pilihan melalui pemahaman terhadap
dasar-dasar perilaku seseorang.
Corey (1991) mengemukakan
bahwa pada terapi perilaku, perilaku adalah hasil dari belajar. Kita semua
adalah hasil dari lingkungan sekaligus adalah pencipta lingkungan. Tidak ada
dasar yang berlaku umum bisa menjelaskan semua perilaku. Karena, setiap
perilaku ada kaitanya dengan sumber yang ada di lingkungan yang menyebabkan
terjadinya sesuatu perilaku tersebut.
Albert Bandura (1974,
1977, 1986) yang terkenal sebagai tokoh teori sosial-belajar, menolak suatu
konsep bahwa manusia adalah pribadi yang mekanistik dengan model perilakunya
yang deterministik. Pengubahan (modifikasi) perilaku bertujuan untuk
meningkatkan kemampuan seseorang agar jumlah respon akan lebih banyak
3. Aliran Humanistik
A.
Pengertian Aliran Humanistik
Psikologi humanistik atau disebut
juga dengan nama psikologi kemanusiaan adalah suatu pendekatan yang multifaset
terhadap pengalaman dan tingkah laku manusia, yang memusatkan perhatian pada
keunikan dan aktualisasi diri manusia. Bagi sejumlah ahli psikologi humanistik
ia adalah alternatif, sedangkan bagi sejumlah ahli psikologi humanistik yang
lainnya merupakan pelengkap bagi penekanan tradisional behaviorisme dan
psikoanalis. Keyakinan ini membawa kepada usaha meningkatkan kualitas manusia
seperti pilihan, kreativitas, interaksi fisik, mental dan jiwa, dan keperluan
untuk menjadi lebih bebas. Situs yang sama menyebutkan bahwa psikologi
humanistik juga didefinisikan sebagai sebuah sistem pemikiran yang berdasarkan
kepada berbagai nilai, sifat, dan tindak tanduk yang dipercayai terbaik bagi
manusia.
B. Konsep
Manusia Dalam Aliran Humanistik
Psikologi humanistik berasumsi
bahwa manusia pada dasarnya memiliki potensi yang baik (minimal lebih banyak
baiknya dari pada buruknya). Manusia memiliki kualitas-kualitas insani yang
tidak dimiliki oleh makhluk lain, seperti kemampuan abstraksi, imajinasi,
kreativitas, aktualisasi diri, dan lain-lain. Manusia dipandang sebagai makhluk
yang otoritas atas kehidupannya sendiri. Artinya, manusia adalah makhluk yang
sadar, mandiri, pelaku aktif yang dapat menentukan hampir segalanya. Oleh
karena itu, manusia disebut sebagai the self determining being. Meode
fenomenologis merupakan metode yang dipakai oleh tokoh humanistik untuk
menelaah kualitas-kualitas insani.
Carl Rogers juga
mengemukakan bahwa kecenderungan manusia ialah mengaktualisasikan dirinya.
Manusia dipandang memiliki banyak keunikan dan realitas pengalaman subjektif
yang beragam. Sedangkan Maslow memandang aktualisasi diri sebagai kebutuhan
dasar manusia.
Psikologi humanistik
berasumsi bahwa manusia pada dasarnya memiliki potensi-potensi yang baik,
minimal lebih banyak baiknya daripada buruknya. Psikologi humanistic memusatkan
perhatian untuk menelaah kualitas-kualitas insani, yakni sifat-sifat dan
kemampuan khusus manusia yang terpatri pada eksistensi manusia, seperti
kemampuan abstraksi, daya analisis dan sintesis, imajijnasi, kreativitas,
kebebasan berkehendak, tanggungjawab, aktualisasi diri, makna hidup,
pengembangan pribadi, humor, sikap etis dan rasa estetika. Selain itu psikologi
humanistic memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki otoritas atas
kehidupan dirinya sendiri.
Logoterapi, sebuah corak
pandangan psikologi yang sering dikelompokkan ke dalam psikologi humanistic,
menemukan adanya dimensi lain pada manusia di samping dimensi raga (somatis)
dan diimensi kejiwaan (psikis) yaitu, dimensi oetik atau sering juga disebut
dimensi spiritual. Logoterapi mengajarkan bahwa manusia harus dipandang sebagai
kesatuan raga jiwa ruhani yang tak terpisahkan. Selain itu logoterapi
menganggap hasrat untuk hidup bermakna adalah motivasi utama manusia . dan bila
seseorang berhsil memenuhinya akan menjadikan hidupnya bermkna dan bahagia.
Sebaliknya jika ia tak berhasil memenuhi arti hidupnya hampa tak bermakna.
Prinsip Utama
Memahami manusia sebagai
suatu totalitas. Oleh karenanya sangat tidak setuju dengan usaha untuk
mereduksi manusia, baik ke dalam formula S-R yang sempit dan kaku
(behaviorisme) ataupun ke dalam proses fisiologis yang mekanistis. Manusia
harus berkembang lebih jauh daripada sekedar memenuhi kebutuhan fisik, manusia
harus mampu mengembangkan hal-hal non fisik, misalnya nilai ataupun sikap.
Metode yang digunakan
adalah life history, berusaha memahami manusia dari sejarah hidupnya sehingga
muncul keunikan individual.
Mengakui pentingnya
personal freedom dan responsibility dalam proses pengambilan keputusan yang
berlangsung sepanjang hidup. Tujuan hidup manusia adalah berkembang, berusaha
memenuhi potensinya dan mencapai aktualitas diri. Dalam hal ini intensi dan
eksistensi menjadi penting. Intensi yang menentukan eksistensi manusia
Mind bersifat aktif,
dinamis. Melalui mind, manusia mengekspresikan keunikan kemampuannya sebagai
individu, terwujud dalam aspek kognisi, willing, dan judgement. Kemampuan khas
manusia yang sangat dihargai adalah kreativitas. Melalui kreativitasnya,
manusia mengekspresikan diri dan potensinya.
Pandangan humanisti
banyak diterapkan dalam bidang psikoterapi dan konseling. Tujuannya adalah
meningkatkan pemahaman diri.
2.
Konsep
Manusia Menurut Humanisme dan Al Quran,
I.Manusia
dalam Tinjauan Filsafat
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “manusia” diartikan
sebagai makhluk yang berakal budi (mampu menguasai
makhluk lain). dari sudut antropologi filsafat, hakekat (esensi) manusia
diselidiki melalui tiga langkah, yaitu: langkah pertama, pembahasan
etimologi manusia yang dalam bahasa Inggris disebut man (asal kata
dari bahasa Anglo Saxon, man). Apa arti dasar kata ini tidak jelas,
tetapi pada dasarnya bisa dikaitkan dengan mens (Latin), yang berarti
"ada yang berpikir". Demikian halnya arti kata anthropos (Yunani)
tidak begitu jelas. Semua antrophos berarti "seseorang yang
melihat ke atas". Akan tetapi sekarang kata itu dipakai untuk mengartikan
"wajah manusia". Akhirnya, homo dalam bahasa latin berarti
‘orang yang dilahirkan di atas bumi’ (bandingkan dengan kamus). [1]Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “manusia” diartikan
Langkah kedua, pembahasan hakekat manusia dengan indikasi bahwa ia merupakan makhluk ciptaan di atas bumi sebagaimana semua benda duniawi, hanya saja ia muncul di atas bumi untuk mengejar dunia yang lebih tinggi. Manusia merupakan makhluk jasmani yang tersusun dari bahan meterial dan organis. Kemudian manusia menampilkan sosoknya dalam aktivitas kehidupan jasmani. Selain itu, sama halnya dengan binatang, manusia memiliki kesadaran indrawi. Namun, manusia memiliki kehidupan spiritual-intelektual yang secara intrinsik tidak tergantung pada segala sesuatu yang material.
Langkah Ketiga, perkembangan universal dari kecendrungan-kecendrungan kodrat manusiawi pada akhirnya akan menuju kepada kemanusiaan yang luhur yang dinyatakan oleh humanisme sebagai tujuan umat manusia, yang merupakan subjek dari proses historis dalam proses perkembangan kultur material dan spiritual manusia di atas bumi. Manusia merupakan manifestasi makhluk bio sosial, wakil dari spesies homo sapiens. Menurut Alex MA.,[2] “homo sapiens” adalah manusia mempunyai potensi berpikir dan kebijaksanaan
II.Manusia dalam Terminologi Al-Qur’an
Secara terminologis, ungkapan al-Qur’an untuk menunjukkan konsep manusia terdiri atas tiga kategori, yaitu: a) al-insan, al-in’s, unas, al-nas, anasiy dan insiy; b) al-basyar; dan; c) bani ²dam “anak ²dam ” dan §urriyyat ²dam “keturunan ²dam ”.[3] Menurut M. Dawam Raharjo istilah manusia yang diungkapkan dalam al -Qur’an seperti basyar, insan, unas, insiy, ‘imru, rajul atau yang mengandung pengertian perempuan seperti imra’ah, nisa’ atau niswah atau dalam ciri personalitas, seperti al-atqa, al-abrar, atau ulul-albab, juga sebagai bagian kelompok sosial seperti al-asyqa, dzul-qurba, al-dhu’afa atau al-musta«’af-n yang semuanya mengandung petunjuk sebagai manusia dalam hakekatnya dan manusia dalam bentuk kongkrit.[4] Meskipun demikian untuk memahami secara mendasar dan pada umumnya ada tiga kata yang sering digunakan Al-Qur’an untuk merujuk kepada arti manusia, yaitu insan atau ins atau al-nas atau unas, dan kata basyar serta kata bani ²dam atau §urriyat ²dam . [5]
Meskipun ketiga kata tersebut menunjukkan pada makna manusia, namun secara khusus memiliki penekanan pengertian yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada uraian berikut
a. Penamaan manusia dengan kata al-Basyar dinyatakan dalam Al-Qur’an sebanyak 36 kali dan tersebar dalam 26 surat.14 [6]Secara etimologi al-basyar berarti kulit kepala, wajah, atau tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya rambut. Penamaan ini menunjukkan makna bahwa secara biologis yang mendominasi manusia adalah pada kulitnya, dibanding rambut atau bulunya. Pada aspek ini terlihat perbedaan umum biologis manusia dengan hewan yang lebih didominasi bulu atau rambut.
Al-Basyar, juga dapat diartikan mulasamah, yaitu persentuhan kulit antara laki-laki dengan perempuan.16 Makna etimologi dapat dipahami adalah bahwa manusia merupakan makhluk yang memiliki segala sifat kemanusiaan dan keterbatasan, seperti makan, minum, seks, keamanan, kebahagiaan, dan lain sebagainya. Penunjukan kata al-basyar ditujukan Allah kepada seluruh manusia tanpa terkecuali, termasuk eksistensi Nabi dan Rasul. Eksistensinya memiliki kesamaandengan manusia pada umumnya, akan tetapi juga memiliki titik perbedaan khusus bila dibanding dengan manusia lainnya.
Adapun titik perbedaan tersebut dinyatakan al-Qur’an dengan adanya wahyu dan tugas kenabian yang disandang para Nabi dan Rasul. Sedangkan aspek yang lainnya dari mereka adalah kesamaan dengan manusia lainnya. Hanya saja kepada mereka diberikan wahyu, sedangkan kepada manusia umumnya tidak diberikan wahyu. Firman Allah swt.
Artinya :
Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".[7]
Menurut M. Quraish Shihab, kata basyar terambil dari akar kata yang pada umumnya berarti menampakkan sesuatu dengan baik dan indah. Dari kata yang sama lahir kata basyarah yang berarti kulit. Manusia dinamakan basyarah karena kulitnya tampak jelas dan berbeda dengan kulit binatang lainnya. Al-Qur’an menggunakan kata ini sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan 1 kali dalam bentuk mu£anna (dual) untuk menunjukkan manusia dari aspek lahiriah serta persamaannya dengan manusia seluruhnya. [8]
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penelitian manusia dengan menggunakan kata basyar, artinya anak keturunan ²dam banu ²dam , mahkluk fisik atau biologis yang suka makan dan berjalan ke pasar. Aspek fisik itulah yang menyebut pengertian basyar mencakup anak keturunan ²dam secara keseluruhan.20 Al-Basyar mengandung pengertian bahwa manusia akan berketurunan yaitu mengalami proses reproduksi seksual dan senantiasa berupaya untuk memenuhi semua kebutuhan biologisnya, memerlukan ruang dan waktu, serta tunduk terhadap hukum alamiahnya, baik yang berupa sunnatullah (sosial kemasyarakatan), maupun takdir Allah (hukum alam). Semuanya itu merupakan konsekuensi logis dari proses pemenuhan kebutuhan tersebut. Untuk itu, Allah swt. memberikan kebebasan dan kekuatan kepada manusia sesuai dengan batas kebebasan dan potensi yang dimilikinya untuk mengelola dan memanfaatkan alam semesta, sebagai salah satu tugas kekhal³fahannya di muka bumi.
b. Adapun penamaan manusia dengan kata al-insan yang berasal dari kata al-uns, dinyatakan dalam al-Qur’an sebanyak 73 kali dan tersebar dalam 43 surat.21 Secara etimologi, al-insan dapat diartikan harmonis, lemah lembut, tampak, atau pelupa. Menurut Quraish Shihab, manusia dalam al-Qur’an disebut dengan al-Insan. Kata insan terambil dari kata uns yang berarti jinak, harmonis dan tampak. Pendapat ini jika ditinjau dari sudut pandang al-Qur’an lebih tepat dari yang berpendapat bahwa ia terambil dari kata nasiya (yang berarti lupa), atau nasa-yansu (yangberarti bergoncang). Kata insan digunakan al-Qur’an untuk menunjukkan kepada manusia dengan seluruh totalitas, jiwa dan raga. Manusia berbeda antara seseorang dengan yang lain, akibat perbedaan fisik, mental dan kecerdasannya. [9]
Adapun kata al-Insan digunakan al-Qur’an untuk menunjukkan totalitas manusia sebagai makhluk jasmani dan rohani. Harmonisasi kedua aspek tersebut dengan berbagai potensi yang dimilikinya, mengantarkan manusia sebagai makhluk Allah yang unik dan istimewa sempurna, dan memiliki diferensiasi individual antara satu dengan yang lain, dan sebagai makhluk dinamis, sehingga mampu menyandang predikat khal³fah Allah di muka bumi.
Perpaduan antara aspek fisik dan psikis telah membantu manusia untuk mengekspresikan dimensi al-insan dan al-bayan, yaitu sebagai makhluk berbudaya yang mampu berbicara, mengetahui baik dan buruk, dan lain sebagainya.23 Dengan kemampuan ini, manusia akan mampu mengemban amanah Allah di muka bumi secara utuh, yakni akan dapat membentuk dan mengembangkan diri dan komunitasnya sesuai dengan nilai-nilai insaniah yang memiliki nuansa Ilahiah dan hanif. Integritas ini akan tergambar pada nilai-nilai iman dan bentuk amaliahnya.24 Dengan kemampuan ini,. Namun demikian, manusia sering lalai bahkan melupakan nilai-nilai insaniah yang dimilikinya dengan berbuat berbagai bentuk mafsadah (kerusakan) di muka bumi.
Kata al-insan juga digunakan dalam al-Qur’an untuk menunjukkan proses kejadian manusia sesudah ²dam. Kejadiannya mengalami proses yang bertahap secara dinamis dan sempurna di dalam di dalam rahim. (QS. al-Nahl (16): 78; QS. al-Mukmin-n (23): 12-14. Penggunaan kata al-insan dalam ayat ini mengandung dua makna, yaitu: Pertama, makna proses biologis, yaitu berasal dari saripati tanah melalui makanan yang dimakan manusia sampai pada proses pembuahan. Kedua, makna proses psikologis (pendekatan spiritual), yaitu proses ditiupkan ruh-Nya pada diri manusia, berikut berbagai potensi yang dianugerahkan Allah kepada manusia.
Makna pertama mengisyaratkan bahwa manusia pada dasarnya merupakan dinamis yang berproses dan tidak lepas dari pengaruh alam serta kebutuhan yang menyangkut dengannya. Keduanya saling mempengaruhi antara satu dengan yang lain. Sedangkan makna kedua mengisyaratkan bahwa, ketika manusia tidak bisa melepaskan diri dari kebutuhan materi dan berupaya untuk memenuhinya, manusia juga dituntut untuk sadar dan tidak melupakan tujuan akhirnya, yaitu kebutuhan immateri (spiritual). Untuk itu manusia diperintahkan untuk senantiasa mengarahkan seluruh aspek amaliahnya pada realitas ketundukan pada Allah, tanpa batas, tanpa cacat, dan tanpa akhir. Sikap yang demikian akan mendorong dan menjadikannya untuk cenderung berbuat kebaikan dan ketundukan pada ajaran Tuhannya.[10]
Menurut Aisyah Bintu Syati, bahwa term al-insan yang terdapat dalam al-Qur’an menunjukkan kepada ketinggian derajat manusia yang membuatnya layak menjadi khal³fah di bumi dan mampu memikul beban berat dan aktif (tugas keagamaan) dan amanah kehidupan. Hanya manusialah yang dibekali keistimewaan ilmu (punya ilmu pengetahuan), al-bayan (pandai bicara), al-‘aql (mampu berpikir), al-tamyiz (mampu menerapkan dan mengambil keputusan) sehingga siapmenghadapi ujian, memilih yang baik, mengatasi kesesatan dan berbagai persoalan hidup yang mengakibatkan kedudukan dan derajatnya lebih dari derajat dan martabat berbagai organisme dan makhluk-makhluk lainnya. [11]
c. Kata al-Nas dinyatakan dalam al-Qur’an sebanyak 240 kali dan tersebar dalam 53 surat. Kata al-nas menunjukkan pada eksistensi manusia sebagai makhluk hidup dan sosial, secara keseluruhan, tanpa melihat status keimanan atau kekafirannyaKata al-Nas dipakai al-Qur’an untuk menyatakan adanya sekelompok orang atau masyarakat yang mempunyai berbagai kegiatan (aktivitas) untuk mengembangkan kehidupannya. [12]
Dalam menunjuk makna manusia, kata al-nas lebih bersifat umum bila dibandingkan dengan kata al-Insan. Keumumannya tersebut dapat di lihat dari penekanan makna yang dikandungnya. Kata al-Nas menunjuk manusia sebagai makhluk sosial dan kebanyakan digambarkan sebagai kelompok manusia tertentu yang sering melakukan mafsadah dan pengisi neraka, di samping iblis. Hal ini terlihat pada firman Allah QS. al-Baqarah (2): 24.